Dalam praktik sehari-hari, banyak perusahaan masih menyatukan seluruh fungsi Human Resources (HR) ke dalam satu peran yang bersifat administratif. Padahal, memahami HR Business Partner vs HR Operasional untuk HRD menjadi krusial di tengah kompleksitas bisnis modern. Perbedaan kedua peran ini menentukan sejauh mana fungsi HR mampu berkontribusi sebagai penggerak strategi dan pertumbuhan bisnis, bukan sekadar unit pendukung administratif.
Memahami HR Business Partnervs HR Operasional untuk HRD bukan sekadar soal pembagian tugas, tetapi menyangkut bagaimana organisasi memanfaatkan fungsi SDM sebagai penggerak strategi dan pertumbuhan bisnis.
Perbedaan Mendasar HR Business Partner vs HR Operasional untuk HRD
Perbedaan utama kedua peran ini terletak pada fokus tujuan dan ruang pengaruhnya. HR Operasionalbertanggung jawab memastikan seluruh proses administratif ketenagakerjaan berjalan akurat dan patuh regulasi. Aktivitas seperti payroll, absensi, pengelolaan kontrak kerja, serta kepatuhan terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Cipta Kerja, dan PP Nomor 35 Tahun 2021 menjadi wilayah utama peran ini.
Sebaliknya, peran HR Business Partner bersifat strategis. HRBP berfokus menyelaraskan kebijakan dan strategi SDM dengan arah bisnis perusahaan. Dave Ulrich, pakar manajemen SDM, mendefinisikan HRBP sebagai mitra manajemen yang membantu organisasi membuat keputusan berbasis manusia yang berdampak jangka panjang. HRBP tidak hanya memahami karyawan, tetapi juga memahami model bisnis, risiko organisasi, dan tujuan pertumbuhan perusahaan.
Mengapa Perbedaan Peran Ini Krusial bagi HRD?
Masih banyak organisasi yang memposisikan HR sebatas fungsi administratif. Konsekuensinya, HRD jarang dilibatkan dalam diskusi strategis. Padahal, riset Deloitte Human Capital Trends menunjukkan bahwa perusahaan yang melibatkan HR dalam perencanaan bisnis memiliki peluang lebih besar mencapai target pertumbuhan dan ketahanan organisasi.
Ketika HR hanya beroperasi secara administratif, keputusan terkait talent management sering kali reaktif dan minim analisis. HRBP hadir untuk mengisi celah ini dengan pendekatan berbasis data mulai dari analisis kebutuhan kompetensi, manajemen risiko tenaga kerja, hingga desain struktur organisasi yang lebih efektif. Di sinilah terlihat jelas bahwa strategi SDM dan bisnis tidak dapat dipisahkan.
Siapa yang Menjalankan HR Operasional dan HRBP di Organisasi?
Dalam struktur organisasi, HR Operasional umumnya dijalankan oleh staf hingga supervisor HR. Fokus utama mereka adalah keakuratan data, kelengkapan dokumen, dan kepatuhan hukum. Peran ini sangat penting karena menjadi fondasi kepastian administrasi dan hubungan industrial yang sehat.
Sementara itu, HR Business Partner biasanya berada di level manajerial atau senior specialist. Mereka bekerja langsung dengan pimpinan unit bisnis atau direksi. HRBP terlibat dalam perencanaan anggaran SDM, analisis produktivitas, perancangan kompetensi inti, hingga manajemen perubahan organisasi. Interaksi HRBP terjadi di ruang strategis, bukan hanya di balik meja administrasi.
Area di Mana Perbedaan Peran Paling Terlihat
Perbedaan peran HR Business Partner dan HR Operasional paling jelas terlihat dari konteks kerja sehari-hari. HR Operasional bekerja dalam kerangka sistem, SOP, dan prosedur. Mereka sering ditempatkan dalam shared service atau HR service center untuk memastikan efisiensi dan konsistensi proses.
Sebaliknya, HRBP berada dekat dengan unit bisnis. Forum kerja mereka adalah rapat perencanaan bisnis, performance review, dan penyusunan roadmap SDM. Dalam forum inilah HRBP menerjemahkan tujuan bisnis menjadi implikasi terhadap tenaga kerja, sekaligus menyuarakan risiko dan peluang dari perspektif SDM.
Kapan Organisasi Membutuhkan HR Business Partner?
Kebutuhan akan HRBP biasanya meningkat seiring bertambahnya kompleksitas bisnis. Perusahaan yang sedang ekspansi, melakukan restrukturisasi, menghadapi penurunan produktivitas, atau menjalani transformasi digital membutuhkan analisis SDM yang lebih tajam.
HRBP juga krusial ketika manajemen harus mengambil keputusan berbasis data, seperti menghitung kapasitas tenaga kerja, menurunkan tingkat turnover, atau menyusun strategi suksesi kepemimpinan. Dalam kondisi pasar yang dinamis, HRBP membantu perusahaan bergerak lebih adaptif dan terukur.
FAQโs
1. Apa yang dimaksud HR Business Partner?
HR Business Partner adalah peran HR strategis yang bertugas menyelaraskan kebijakan SDM dengan tujuan bisnis dan memberi insight kepada manajemen.
2. Apa fokus utama HR Operasional?
HR Operasional berfokus pada administrasi ketenagakerjaan seperti payroll, absensi, kontrak kerja, dan kepatuhan terhadap regulasi.
3. Mengapa perusahaan membutuhkan HRBP?
Karena HRBP membantu manajemen memahami risiko tenaga kerja, kebutuhan kompetensi, serta dampak keputusan bisnis terhadap SDM.
4. Apakah HR Operasional bisa berkembang menjadi HRBP?
Bisa. Banyak HRBP berawal dari peran operasional, kemudian berkembang setelah menguasai strategi bisnis, data SDM, dan analisis organisasi.
5. Apakah HRBP wajib menguasai data?
Ya. Analisis data seperti turnover, produktivitas, dan kapasitas tenaga kerja menjadi dasar rekomendasi HRBP.
Mempersiapkan HRD Menuju Peran HR Business Partner
Transformasi dari HR Operasional menuju HR Business Partner membutuhkan perubahan kompetensi dan pola pikir. HRD perlu memahami strategi bisnis, indikator keuangan dasar, people analytics, serta kemampuan komunikasi bisnis yang kuat agar insight yang disampaikan dapat diterima manajemen.
Banyak HRD di Indonesia memilih mengikuti program pengembangan profesional untuk mempercepat proses ini. Salah satunya adalah program Becoming a Strategic Business Partner in HR dari BMG Institute, yang dirancang untuk membantu HR menghubungkan strategi bisnis dengan praktik SDM secara aplikatif. Program ini menyediakan studi kasus, tools analisis, dan panduan implementasi yang relevan dengan tantangan organisasi modern. ย Hubungi Training BMG Instituteย untuk informasi lebih lanjut.



